Kisah Haru Praka Nasri Yang Meninggal Saat Bertugas di Sudah, Afrika

Menjadi seorang pengabdi Negara tentu bukanlah suatu hal yang mudah karena itu merupakan pilihan dimana kita harus berkorban banyak hal. Yang utama adalah ketika harus berpisah dengan keluarga, ditugaskan jauh dari kampung halaman, bahkan di luar negeri, serta harus siap berkorban nyawa ketika menjalankan tugas, seperti kisah Praka Nasri berikut.

Pria yang masuk dalam salah satu anggota pasukan perdamaian (peacekeepers) PBB asal Indonesia ini gugur ketika sedang menjalankan tugasnya di Sudan, Afrika Utara. Namun, kali ini ceritanya sedikit berbeda. Jika kebanyakan para anggota militer tertembak dan gugur di medan tempur, Praka Nasri mengalami kecelakaan tunggal yang berakhir maut.

Praka Nasri diketahui sudah 10 tahun berkecimpung di dunia militer. Ia sudah menjalani berbagai macam tahapan pelatihan untuk menjadi bagian dari pasukan perdamaian PBB Uni Afrika (United Nations Hybrid Operation in Darfur). Sebelumnya, Praka ini diketahui bertugas di Indonesia bagian timur, Papua.

Praka mendapatkan tugas dikirim terbang ke Sudah, Afrika. Kala itu sedang terjadi pergolakan perang saudara disana. Konflik antar-saudara ini tentu menjadi hal yang pelik karena perebutan kekuasaan, hingga perebutan sumber daya alam.

Namun nahas nasibnya, pada awal Juli lalu 04/07/2018 berita duka datang dari Suban, Afrika. Berita itu langsung diunggah melalui sebuah postingan dari Menteri Luar Negeri RI Retno LP Marsudidi akun Twitternya.

Praka Narsi ketika itu sedang mengendarai mobil kontingen Indonesia, bersama kedua rekannya. Nahasnya, kecelakaan tersebut membuat kedua rekannya hanya menderita luka dan menewaskan dirinya ketika berada di wilayah El Ganeina, Darfur, Sudan Barat. Jenazah Praka Nasri dikirim pulang ke Indonesia dan tiba pada kamis malam (12/7/2018), sekitar pukul 18.00 WIB.

Menurut pernyataan Ibunya, sebelumnya putranya tersebut sempat mengirimkan pesan permintaan maaf kepada orangtuanya di kampung halamannya, Sumatra Selatan. Ia membuat pesan seolah ingin pergi jauh dan kembali dalam waktu yang lama

Ibunya juga sempat bermimpi buruk mengenai gigi gerahamnya patah. Jika membaca buku primbon itu merupakan hal buruk yang akan terjadi. Kematiannya Praka Nasri jelas membekas duka di hati keluarga

Praka nasri meninggalkan seorang istri Liliana Anggraini (30), serta anak yang berumur 3 tahun. Sementara istrinya yang berprofesi sebagai bidan di Ogan Ilir (OI) juga sedang hamil 4 bulan putra kedua mereka.

Sesampainya di rumah duka, Praka Nasri yang dikenal dinaikkan pangkatnya menjadi Kopral II. Ditambah lagi Kolonel Adrian yang merupakan Komandan menyampaikan bahwa anak dari Praka Nasri bisa didaftarkan menjadi anggota TNI dan bebas secara administrasi hingga ia berhasil.

Kisah Lutfi Azizatunnisa Seorang Difabelitas Yang Menuntut Ilmu Hingga S3

Tekad dan semangat seseorang untuk menuntut ilmu tidak diukur pada keterbatasan seseorang. Segala keterbatasan pada diri seseorang tidak membuatnya putus ada dalam meraih prestasinya.

Itulah yang dialami oleh Lutfi Azizatunnisa yang merupakan seorang yang gemar mendaki gunung sekaligus menjadi seorang teladan yang berprestasi. Namun ada kisah inspirasi yang luar biasa dari seorang Lutfi.

Lutfi Azizatunnisa merupakan seorang yang sangat ceria dan sangt mencintai alam. Hobinya mendaki gunung dan kejeniusannya menjadikan dirinya sebagai salah satu Mahasiswa unggulan Universitas Negeri Solo Fakultas Kedokteran yang berprestasi

Namun peristiwa kecelakaan enam tahun lalu mengakibatkan ia tidak bisa melakukan hobinya sebagai pecinta alam atau pendaki gunung. Ia kehilangan kemampuannya dalam menggerakan tubuh.

Kecelakaan yang dialaminya di semester akhir perkuliahannya membuatnya lumpuh dan mengharuskannya bergantung pada kursi roda untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

Lutfi Azizatunnisa menderita Quadriplegic level C6 di mana tulang leher ruas ke-6 dan 7 patah. Hal itu akibat kecelakaan yang dialami pada 15 Agustus 2011.

Akibat kecelakaan yang dialaminya, Lutfi mengalami kelumpuhan di empat anggota gerak tubuhnya (quadriplegia). Sebelumnya Lutfi sempat diprediksi untuk kesempatan hidupnya hanya 50%. Namun tidak ada sesuatu yang tidak mungkin, takdir berkata lain, Lutfi mendapatkan kesempatan hidup.

Ia berhasil melewati masa kritisnya di UGD RS PKU Muhammadiyah Delanggu dan kondisinya perlahan semakin membaik setelah melakukan berbagai operasi di RSUP Suradji Tirtonegoro.

Lutfi Azizatunnisa sempat pasrah dan putus asa mengetahui kondisi yang di alaminya. Sementara itu dilain sisi, ia membutuhkan masa pemulihan selepas kecelakaan, ia mengambil cuti kuliah selama 3 tahun.

Bangkit dari keputusasaan itulah yang di alami Lutfi. Ia kemudian masuk kuliah lagi dan menyelesaikan pendidikan kedokterannya. Meski dengan kondisinya tidak banyak hal yang bisa dilakukannya akibat tidak cukup leluasa melakukan aktivitasnya.

Namun berkat dukungan orangtua dan teman-teman disekelilingnya membuat Lutfi mempunya semangat hingga dapat mengambil kuliah lagi setelah lulus S1, ia meneruskan  kuliah S2 di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat.

Ia bahkan mendapat beasiswa penuh dari WHO TDR (Tropical Disease Research). Didampingi sang ibu, wanita cantik ini akhirnya mampu menyelesaikan S2nya dengan mengagumkan. Ia lulus dengan predikat cumlaude.

Tidak hanya itu, Inspirasi sosok Difabel menjadikannya semangat menuntut ilmu. Dan sekarang ia bertekad menempuh pendidikan lanjutan S3 di luar negeri yakni di Belanda.

Kisah Mba Yati : Semangat Hidup di Usia Senja

Kisah yang sungguh mandiri dari seorang wanita paruh baya bernama Mbah Yati yang sudah berusia 89 tahun. Mba Yati mempunyai semangat hidup yang tinggi dengan berjuang sebagai seorang yang mandiri.

Untuk bertahan hidup Mbah Yati harus berada dalam sebuah ruangan sempit di tepi jalan besar hanya untuk mencari Nafkah dengan berjualan makanan.

Warung yang sekaligus menjadi tempat tinggalnya dibangun di atas tanah kas desa. Bangunanya tidak begitu luas. Area depan menjadi warung, lalu ada kamar di belakangnya.

Meski sudah hampir menginjak usia 90 tahun namun tangan keriput Mbah Yanti masih lincah dalam hal mengulek dan meracik berbagai menu makanan. Ada banyak pilihan menu yang dapat di sajikan oleh Mbah Yati, diantaranya seperti lotek, lotis, rujak buah, rujak cingur, rujak buah, kupat tahu, gado-gado, pecel.

Dahulu kala Mbah Yati menjadi satu-satunya warung yang ada di daerah tersebut namun semakin berubahnya waktu semkin banyak juga pesaing yang mendirikan warung makanan. Jika dulu penghasilan kotor bisa mencapai Rp 900 ribu, sekarang Mbah Yati hanya mendapat sepertiganya. Mbah Yati sudah 56 tahun berjualan lotek. Kini dia mengurusi warung seorang diri.

Jam 3 bangun, cuci-cuci piring. Terus sambil masak air. Nanti ke pasar jam 4. Pulang pasar racik-racik. Saya kalau ke pasar biasa nggak pakai sandal, karena memang nggak pernah punya sandal,” akunya.

Mbah Yati punya tiga orang anak perempuan yang semuanya sudah berkeluarga. Dua orang sudah ikut suaminya di luar Pulau Jawa. Sedangkan satu lagi masih di Yogyakarta, namun dia tak berkeinginan tinggal bersama anaknya. Dia berprinsip, daripada merepotkan anak lebih baik berusaha sendiri.

Saat ini warung yang dimiliki Mba Yati saat ini berada di Jalan Kaliurang KM 6,5 depan Batalyon 403 Yogyakarta. Buka setiap hari mulai pukul 8 pagi hingga pukul 9 malam.

 

Kisah Tentang Juru Parkir Yang Menghadang Pelaku Bom Surabaya

Kejadian yang begitu pilu di Surabaya mengisahkan banyak luka mendalam bagi para anggota keluarga yang ditinggalkan. Koban pelaku bom bunuh diri di Surabaya, tepatnya di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS), Jalan Arjuno.

Korban yang menjadi penyelamat Bom Bunuh Diri di Surabaya itu terdapat 4 orang di lokasi tersebut dan yang paling berkesan adalah seorang remaja laki-laki bernama Daniel.

Daniel berprofesi sebagai juru parkir di lokasi kejadian, Surabaya. Pada saat itu ia menghadang mobil Toyota Avanza yang meledak di GPPS, Jl. Arjuno, Surabaya, Minggu 13/05/2018.

Setelah mendengar kejadian tersebut, keluarga Daniel segera bergegas mencari kepastian dan keberadaan Daniel pada saat itu, namun hasilnya masih dalam tahap pencaharian tim polisi.

Hal yang begitu pilu ketika dilakukan identifikasi dari hasil DNA dan kecocokan gigi, jasad Daniel Agung Putra Kusuma ditemukan dalam kondisi tidak dikenali lagi.

Agus yang merupakan paman korban, pada saat ibadah yang dilakukan setiap minggu, mobil tidak pernah boleh parkir di dalam, hanya boleh motor.

Dan Daniel melakukan tugasnya dengan baik. Ketika mobil Avanza yang tiba-tiba menerobos ingin masuk ke dalam gerbong gereja yang terbuka, Daniel berusaha menghadang mobil tersebut.

Sekitar pukul 18.30 pihak RS Bhayangkara menyerahkan jenazah Daniel kepada keluarganya. Tangis pecah terjadi saat melihat kondisi Daniel yang tidak dapat dikenali lagi.

Our Little Hero

Kisah Daniel yang berusaha menghadang mobil Toyota Avanza pelaku bom bunuh diri di GPPS pun menuai simpati netizen. Pemilik akun Facebook Susanto Saputro membagikan sepenggal kisah tentang Daniel. Ia memberikan Daniel sebutan “Our Little Hero”.

Berikut unggahan lengkapnya:

“Sepenggal cerita dari our Little hero Daniel remaja yang masih pelajar smp, dimana setiap minggu membantu ayahnya Budi Parkir Gpps Budi menjadi petugas parkir di gereja GPPS Sawahan Jl.Arjuno.

Dengan kepolosannya, saat itu dia yang bertugas sebagai petugas parkir di Jl Arjuno berusaha menghalangi sebuah mobil avanza yang merangsek masuk ke halaman gereja yang tidak terlalu luas dan mobil tersebut berusaha masuk kedalam gedung gereja.

Mungkin si “bomber” panik karena didepannya ada seorang anak yang berusaha menghalangi masuk bersama mobil nya, atau entah bagaimana dan tiba tiba ” blar” ( ledakan pertama ) terjadi dihalaman gereja , kemudian tak lama disusul ledakan kedua, dan berjatuhanlah beberapa korban baik meninggal maupun yang luka bakar.

Tercatat hingga hari ini 6 Korban meninggal termasuk Little Hero kami Daniel dan kurang lebih 5 orang yang masih dalam perawatan di rumah sakit karena luka bakar.

Mengapa kami menganggap dia little hero ? walaupun ada satu hero lagi yaitu salah seorang satpam gereja Giri Catur yang turut berusaha menghalangi mobil tersebut ( sekarang masih berjuang dalam masa kritis di rumah sakit karena luka bakar yang cukup parah ), karena andaikata Daniel tidak menghalangi mobil tersebut untuk dapat lebih jauh masuk mendekat kedalam gedung gereja maka dapat dipastikan jumlah korban akan lebih banyak, mungkin bukan 6 atau 7 atau 8 tetapi bisa puluhan yang meninggal.

 

Mungkin engkau masih kecil, masa remaja yang penuh sukacita.

Mungkin engkau akan dilupakan setelah sekian lama waktu..

Tetapi TIDAK bagi kami !!!

 

Daniel tetaplah sang Daniel , remaja yang kami kenal, anak yang pemberani, cinta Tuhan, melayani Tuhan dengan segenap hati dalam kepolosannya…..

 

Tempat mu di Surga telah disediakan, Tuhan Yesus mengasihi mu dan tetaplah menjadi Daniel .. Our Little Hero.

 14 Mei 2018.

 #savenkri #pray4surabaya #saynototerorism”

Tragedi 4 Mahasiswa Trisaksi Yang Tewas di Tembak Pada Peristiwa Mei 1998

Tragedi Trisakti adalah peristiwa penembakan, pada tanggal 12 Mei 1998, terhadap mahasiswa pada saat demonstrasi menuntut Soeharto turun dari jabatannya. Kejadian ini menewaskan empat mahasiswa Universitas Trisakti di Jakarta,Indonesia serta puluhan lainnya luka.

Tragedi Trisaksi juga menjadi simbol penanda perlawanan mahasiswa terhadap pemerintahan Orde Baru. Dalam tragedi tersebut bukan hanya Mahasiswa Trisaksti yang meninggal tertembak (sebanyak 4 orang) ada korban luka mencapai 681 orang dari berbagai perguruan tinggi.

Mahasiswa Trisakti yang tewas adalah Elang Mulia Lesmana (1978-1998), Heri Hertanto (1977 – 1998), Hafidin Royan (1976 – 1998), dan Hendriawan Sie (1975 – 1998). Peristiwa ini menimbulkan duka yang mendalam bagi keluarga dan kampus Trisakti.

Latar Belakang Kejadian

Pada tahun 1998 diketahui Ekonomi Indonesia mulai goyah dan ada sejumlah aksi mahasiswa yang melakukan demonstrasi besar-besaran ke Gedung Nusantara, salah satunya Mahasiswa Trisakti.

Posisi kampus Trisakti merupakan lokasi yang paling strategis yang dekat dengan kompleks gedung DPR/MPR yang menjadikan Universitas Trisakti menjadi titik berkumpulnya mahasiswa dari berbagai kampus.

Mereka melakukan aksi damai dari kampus Trisakti menuju Gedung Nusantara pada pukul 12.30. Namun aksi mereka dihambat oleh blokade dari Polri dan militer datang kemudian. Beberapa mahasiswa mencoba bernegosiasi dengan pihak Polri.

Sesuai kesepakatan pada pukul 17.15 WIB para mahasiswa bergerak mundur, di ikuti bergerak majunya aparat keamanan. Aparat keamanan pun mulai menembakkan peluru ke arah mahasiswa. Para mahasiswa panik dan bercerai berai, sebagian besar berlindung di Universitas Trisakti. Namun aparat keamanan terus melakukan penembakan. Korban pun berjatuhan, dan dilarikan ke RS Sumber Waras.

Hingga akhirnya pada pukul 20.00 dipastikan ada 4 orang Mahasiswa Trisakti yang tewas tertembak dan satu orang dalam keadaan kritis dalam Tragedi Trisakti. Meskipun pihak aparat keamanan membantah telah menggunakan peluru tajam, hasil otopsi menunjukkan kematian disebabkan peluru tajam. Hasil sementara diprediksi peluru tersebut hasil pantulan dari tanah peluru tajam untuk tembakan peringatan.

Berikut Daftar BiodataPara Putra Terbaik Bangsa Mahasiswa Trisakti :

  1. Elang Mulia Lesmana, lahir di Jakarta 05 Juli 1978 dan Meninggal 12 Mei 1998 pada usia 19 thun. Elang adalah seorang mahasiswa Fakultas Arsitektur yang tewas ditempat akibat peluru tajam yang menembus jantungnya.
    Jantungnya pecah ketika peluru tersebut menembus tubuhnya. Bahkan botol parfum yang dibawa di dalam tas nya pun ikut pecah. Elang merupakan mahasiswa yang terkenal tampan dan cerdas.
  2. Heri Hertanto adalah pria kelahiran Jakarta 05 Februari 1977. Ia meninggal pada usia 21 tahun. Heri merupakan seorang mahasiswa Fakultas Teknik Industri angkatan 1995. Ia tewas seketika dengan senapan yang meluncur langsung ke tubuhnya.
  1. Hafidin Royan adalah mahasiswa perantau dari Bandung, Jawa Barat 28 September 1976. Ia meninggal di usia 21 tahun. Hafidin adalah mahasiswa Fakultas Teknik Sipil angkatan 1995. Yang paling menyedihkan ketika pemuda yang ramah senyum ini meninggal dengan tragis, peluru yang diluncurka oleh aparat menembus kepalanya.
  2. Hendrawan Sie, adalah seorang pria berkebangsaan tionghoa lahir di Balikpapan, Kalimantan Timur, 03 Maret 1978 dan meninggal pada usia 20 tahun. Hendrawan adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi. Ia tertembak dibagian leher dan sempat dilarikan ke rumah sakit namun nyawanya tak tertolong hingga akhirnya harus tewas.
    Hendrawan juga masuk dalam Museum Tionghoa Indonesia dan merupakan Penerima Bintang Jasa Adi Pratama Pejuang Reformasi. Dan dia juga merupakan putra tunggal pasangan Bunda Karsiah dan (Alm) Hendrik Sie.