Berceritakanlah sebuah kerajaan yang aman makmur adil sentosa karena dipimpin oleh raja yang bijaksana. Sang raja sudah memimpin kerajaan sejak usia muda hingga sekarang di masa tua belum pernah mengalami suksesi atau penggantian, dan rakyat pun tak pernah keberatan karena sang raja memerintah kerajaan dengan cukup adil.

Namun sang raja ternyata bosan, ia ingin turun tahta dan mencari pengganti, namun uniknya ia tidak menyerahkan posisi raja kepada anak keturunannya, tetapi malahan mengadakan sayembara untuk mencari sosok yang pantas menjadi raja. maka disebarlah pengumuman ke seluruh negeri bahwa raja akan mencari pengganti, siapapun boleh menjadi raja, dari rakyat jelata sampai kaum bangsawan, dengan dua syarat yang harus dipenuhi.

Syarat pertama : siapapun yang terpilih hanya boleh menjadi raja selama 5 tahun , tidak lebih tidak kurang.

Syarat kedua : setelah menjalani masa 5 tahun, maka raja yg terpilih akan dibuang dan diasingkan pulau seberang laut.

Syarat pertama tentu saja bukan masalah besar, namun yg kedua adalah yang terberat karena semua orang tahu seperti apa pulau seberang laut, yaitu sebuah pulau yg masih berupa hutan rimba liar dan penuh dengan binatang buas, siapapun yang dibuang kesana sama saja dengan hukuman mati dan karena itu pulalah meski sudah sekian lama, belum ada yg mengajukan diri menjadi raja. Akhirnya suatu hari datang seorang pemuda yg menyatakan kesanggupannya menjadi raja dan menerima dua syarat tersebut. Pemuda ini sebenarnya adalah pemuda biasa yg ingin merasakan bagaimana nikmatnya menjadi raja krn selama ini ia hidup pas pasan dan setelah berpikir panjang lebar ia nekad untuk melamar menjadi raja.

Maka diangkatlah dia menjadi raja dan mulai saat itu ia akan mendapatkan pelayanan layaknya seorang raja, harta berlimpah, wanita cantik, makan dan minuman enak dan lain lain. Tapi sayang ternyata ketakutannya akan kematian membuatnya tak bisa menikmati semua itu. Tahun pertama, dia mulai gelisah karena umurnya tinggal empat tahun lagi. Tahun kedua, ia makin tak tenang, makan tak enak tidur tak nyenyak . Tahun ketiga, ia mulai menyesali keputusannya menjadi raja. Tahun keempat, ia benar benar tak bisa menikmati apapun yg ada dihadapannya. Tahun kelima, ia malah stress karena hidupnya tinggal beberapa bulan lagi dan kesenangan yg ia cari tak bisa ia rasakan. Dan habislah masa jabatan dia menjadi raja, dan dibuanglah dia ke pulau seberang laut.

Tak butuh waktu lama sampai kabar terdengar ke seluruh negeri jika pemuda itu tewas dimakan singa. Pemuda itu tewas tanpa sempat mendapatkan kenikmatan dan kepuasan dunia yg dia cari. Adanya contoh yg tewas membuat orang orang kian enggan melamar menjadi raja, buat apa hidup enak lima tahun jika pada akhirnya harus mati. Tapi ternyata suatu hari ada juga orang yg melamar menjadi raja dan siap menanggung semua resikonya. Tahun pertama, ia puas puaskan berpesta karena sadar hidupnya tak akan lama lagi. Tahun kedua dan berikutnya, ia isi dengan foya foya, pesta pora, setiap tahun berganti pestanya makin gila gilaan, ia sudah tak perduli lagi pada apapun, ia hanya ingin bersenang senang sebelum mati. Lima tahun berakhir, orang ini pun dibuang ke pulau seberang laut dan nasibnya sama dengan orang sebulmnya, tewas dimakan singa.

Orang ini masih lebih baik, setidaknya ia mendapatkan kenikmtan dan kepuasan dunia sebelum dia mati. Dua orang tewas, membuat banyak orang melupakan mimpinya menjadi raja, meskipun mereka masih penasaran, apakah masih ada orang yang cukup bodoh untuk melamar menjadi raja.

Suatu hari datanglah seorang guru datang melamar unutk menjadi raja dan juga menyatakan kesanggupannya memenuhi dua syarat tersebut. Mendengar ada yang melamar menjadi raja lagi membuat warga penasaran, sebagian menertawakan kebodohan guru tersebut sementara yg lain merasa iba dan kasihan padanya. namun keputusan sudah dibuat, guru itu pun diangkat menjadi raja dan ia diberi segala kemewahan dan kemudahan serta fasilitas layaknya seorang raja.

Ternyata berbeda dengan dua orang sebelumnya, guru ini tidak berpesta pora dan foya-foya, ia tetap pada pola hidupnya semula yg sederhana, namun ia membuat beberapa tindakan selama ia menajdi raja. Tahun pertama, ia kumpulkan seluruh pasukan kerajaan dan ia perintahkan pasukan itu pergi ke pulau seberang laut untuk membabat habis hutan rimba disana dan memindahkan semua binatang disana ke tempat lain.

Sebagai raja tentu perintahnya dipatuhi, dan begitulah akhirnya, di tahun pertama menjadi raja, ia telah membuat pulau seberang laut menjadi pulau kosong yg siap huni. Tahun kedua, ia panggil para arsitek terbaik kerajaan, dan ia perintahkan mereka untuk membangun sebuah istana yg lebih megah dari istana yg ia tempati sekarang. Tahun kedua ia menjadi raja sebuah istana megah berdiri di pulau seberang laut. Tahun ketiga ia mengumpulkan harta, perabotan, dan barang barang lain dan ia kirim ke istana seberang laut. Tahun keempat ia mengirim orang orang untuk menjadi pelayan dan pengurus istana, mulai dari tukang kebun, koki, tukang sapu, dan beberapa prajurit.

Tahun kelima ia mengirim keluarganya ke istana itu, dan ia meminta untuk sabar menantinya setahun lagi di pulau seberang laut. dan akhirnya habislah masa jabatan dia sebagai raja dan sesuai perjanjian guru ini pun dibuang ke pulau seberang laut.

Ia hanya tersenyum dan berkata, “saya memang menunggu waktunya saat saya dibuang” dan ia pun dibuang ke pulau seberang laut dan hidup bahagia bersama keluarganya disana , disebuah istana megah.

BIla Anda sering merasa banyak yang hilang dari kehidupan Anda, percayalah, tidak ada kehilangan yang benar-benar hilang. Seperti kisah inspirasi ini…

Pada suatu masa, di sebuah pedesaan China, hidup seorang pria tua dan keluarganya. Pria tersebut mengolah sebuah kebun dan memiliki beberapa hewan peliharaan, salah satu peliharaannya adalah seekor kuda jantan. Suatu ketika, kuda yang dimiliki pria tua tersebut hilang. Beberapa tetangga mengatakan sempat melihat kuda tersebut berlari melewati batas daerah yang tidak boleh dilewati oleh warga desa. Pria tua itu menjadi sedih, tetapi dia mengatakan, “Tidak apa, barangkali kejadian ini bukan sesuatu yang buruk dan siapa tahu akan datang sesuatu yang baik.”

Setelah hari berganti hari, pada malam hari, pria tua itu dikejutkan dengan suara kuda. Dia langsung bangkit dan melihat ke arah luar rumah, tampak kudanya yang hilang telah kembali dan membawa seekor kuda betina entah milik siapa yang menjadi pasangannya. Tentu saja, seperti peraturan di desa itu, kuda yang tidak diketahui pemiliknya atau liar akan menjadi milik mereka yang menemukan. Para tetangga memberi selamat pada pria tua yang telah mendapatkan kembali kudanya serta tambahan satu kuda secara cuma-cuma.

Setelah waktu berjalan, anak laki-laki dari pria tua tersebut mulai berlatih untuk naik ke atas punggung kuda dan memacu kuda tersebut di sekitar area perkebunan. Sayangnya, pada suatu hari, anak laki-laki itu jatuh dari atas punggung kuda dan mengalami cedera kaki yang sangat parah. Perlu waktu lama untuk sembuh, tetapi sekalipun telah sembuh, anak laki-laki itu tidak bisa berjalan normal. “Tidak apa-apa, nak” ujar si pria tua, “Mungkin hal ini akan mendatangkan sesuatu yang lebih baik untuk mu,”

Dan seperti kejadian sebelumnya, si pria tua merasakan kembali sesuatu yang baik tersebut. Pada masa itu adalah masa perang, semua anak laki-laki di desa wajib memanggul senjata dan bertempur di medan perang. Tetapi karena cacat, anak laki-laki sang pria tua tetap di desa dan bekerja mengolah kebun. Tidak ada yang disesali, karena anak laki-laki itu juga bersikap sama seperti ayahnya, dia percaya akan ada hikmah di balik kejadian buruk yang menyebabkan dia kehilangan cara berjalan yang normal.

Tahun berganti tahun. Perang telah berakhir dan para anak laki-laki yang bertempur kembali ke desa. Ternyata hanya beberapa yang kembali, karena kebanyakan dari mereka ternyata tewas di medan perang. Sang pria tua sedikit bersyukur karena anak laki-lakinya tetap dalam kondisi sehat dan semakin pintar mengurus perkebunan. Sehingga, tidak ada yang perlu disesali karena bagi keluarga tersebut, kebahagiaan tidak hanya dinilai pada saat sesuatu terjadi, tetapi juga pada masa-masa setelahnya.

“Jangan bersikap buruk, sebab kelak kamu akan sangat menyesalinya, Nak. Orang akan selalu mengingat perbuatan kita yang salah”, ucapan itu terngiang kembali pada pendengaran pemuda itu, meski ibunya telah mengucapkannya bertahun-tahun yang lalu,

Saat ia masih tinggal di kampung dulu. Hingga beberapa waktu yang lalu, pemuda itu bahkan tidak mengerti mengapa ibunya selalu mengucapkan kata-kata yang sama. Bukan hanya satu atau dua kali saja, namun ibunya kerap mengucapkan kata-kata ini setiap kali ia memberi nasehat atas sikapnya yang kadang kurang baik pada pandangan si ibu.

Pemuda itu mengacuhkannya, sebab apalah arti sebuah nasehat bagi pemuda yang sedang dalam masa-masa remaja, hal ini bahkan kerap dianggap sebagai angin lalu saja. Berulangkali kali si ibu memberi nasehat, berulangkali pula pemuda itu menganggapnya sebagai angin lalu.

Sikap cerobohnya kerap menjadi alasan mengapa pemuda itu sering dinasehati si ibu, hingga si ibu mengibaratkan perbuatannya seperti dua cangkir minuman yang berbeda, yakni teh dan kopi.

Meski begitu, pemuda itu masih saja sering bertindak ceroboh. Sekali waktu, di malam hari ia lupa mengurung induk dan anak ayamnya ke dalam kandang, hingga pada keesokan harinya ketujuh anak ayam itu lenyap dimangsa musang dan hanya tinggal induknya saja, padahal ibunya telah menyuruhnya mengerjakan hal tersebut berulangkali sejak sore.

Lalu di lain waktu, ia juga tidak menutup saluran air yang masuk ke kolam kecil milik ayahnya, hingga air mengalir terus sepanjang malam dan menghanyutkan semua ikan tersebut ke kolam lainnya milik orang lain di tempat yang lebih rendah dari kolam ayahnya. Kala itu, bukan hanya kolam ayahnya saja yang ikannya terbawa air, namun dua kolam lainnya milik pamannya juga kehilangan banyak ikan.

Pada dasarnya ada banyak orang yang ceroboh di dunia ini, dan itu bukan sebuah masalah yang besar, selama mereka mau berubah dan mendengarkan nasehat orang di sekitarnya. Namun, hal serupa tidak terjadi pada pemuda ini, bahkan setelah ia merantau dan bekerja sebagai sekurity di sebuah kantor di kota.
Tugasnya memeriksa semua ruangan setelah pulang kantor dan mengunci pintu utama sebelum akhirnya pulang ke kontrakannya. Telah berulangkali ia diingatkan agar hati-hati dan memeriksa semua ruangan terlebih dahulu, agar kantor ditinggalkan dalam kondisi baik dan aman.

Bukannya melakukan tugasnya dengan baik, ia bahkan kerap tidak memeriksa setiap ruangan, sehingga beberapa lampu seringkali ditinggalkan dalam kondisi tidak padam. Sore itu setelah karyawan lainnya pulang, pemuda itu bergegas dan mengunci pintu utama, tanpa memeriksa setiap ruangan dengan seksama.

Semua berjalan baik, hingga sejam kemudian sebuah panggilan telepon dari atasannya mengatakan bahwa seorang karyawan telah terkunci di kantor mereka. Atasannya telah berada di kantor, juga beberapa karyawan lainnya yang kebetulan sedang menikmati kopi di kafe sebelah kantor mereka.

Pemuda tersebut minta maaf dan mengakui kesalahannya, sehingga ia tidak mendapatkan masalah berarti atas kejadian tersebut. Namun, kejadian ini memberinya satu pelajaran penting, yang tak lain adalah nasehat ibunya. “Ketika kamu berbuat baik, maka hal tersebut serupa secangkir teh hangat yang sedap, saat diaduk aromanya menenangkan dan warnanya tetap sama bahkan setelah lama.

Namun ketika kamu berbuat salah, maka hal tersebut seperti secangkir kopi hitam, saat diaduk aromanya begitu menggoda dan warnanya akan langsung keruh dan hitam, meskipun telah sempat mengendap lama. Demikianlah orang akan selalu mengingat perbuatan salahmu, Nak, meskipun telah lama berlalu.” Nasehat ibunya benar-benar menjadi kenyataan, sebab sejak hari itu pemuda tersebut selalu menjadi bahan omongan pekerja di sana. Beberapa di antara mereka bahkan sering menyindirnya dengan bercanda, jangan sampai meninggalkan dan mengunci mereka di kantor, seperti karyawan sebelumnya.

Cerita teh dan kopi, dua cangkir dalam nikmat yang berbeda ini mengajarkan kita bahwa pentingnya untuk selalu mendengar nasihat Ibu kita.

Kapan terakhir kali kamu berdoa dan mengucapkan rasa syukur atas semua yang kamu miliki? Mungkin bukan hanya kamu saja, ada banyak sekali orang yang bahkan lupa akan hal ini, sebab hidup kita seringkali begitu sibuk dan mengabaikan banyak hal di dalam diri kita sendiri.

Sebagian besar orang akan selalu melihat kehidupan orang lain begitu mudah, begitu menyenangkan, begitu simpel, atau bahkan begitu beruntung. Bukan hanya orang lain saja yang kadang terlihat seperti itu, namun teman atau bahkan saudara kamu sendiripun juga bisa terlihat selalu “lebih sesuatu” daripada diri kamu sendiri. Kamu akan mulai sibuk menghitung semua yang dimilikinya, semua yang ada padanya dan tidak ada pada dirimu, atau bahkan semua hal yang terlihat begitu mudah untuk selalu dilaluinya. Lalu, apakah sebenarnya kamu sendiri tidak punya pekerjaan lain, selain hanya melihat dan menilai segala sesuatu yang dimiliki oleh orang lain?

Tidak ada yang salah ketika kamu melihat dan menyaksikan kelebihan dan juga keberuntungan orang lain, apalagi jika ternyata kamu bisa lebih bersemangat dan terpacu untuk menjadi lebih baik lagi dari saat ini setelah menyaksikan itu semua. Namun pada kenyataannya, hal seperti ini justru seringkali membuat kamu membandingkan dan menghitung semua kekurangan yang kamu miliki, tentunya ada banyak rutukan yang akan muncul di dalam hatimu, seperti: aku tidak secantik dia, aku tidak sepintar dia, aku tidak seberuntung dia, dan masih banyak keluhan yang lainnya.

Bukannya membenahi diri atas semua hal itu, kamu justru hanya terpaku dan menbayangkan jika kamu menjadi dia, atau menjadi seseorang yang “lebih” dari kamu saat ini. Kamu akan menghabiskan banyak waktu untuk melakukan hal yang tidak perlu ini, hingga rasa benci dan kesal kerap hingga di hatimu. Bukan hanya itu saja, biasanya hal ini akan dibarengi dengan rasa kecewa yang berlebihan kepada diri sendiri, sehingga kamu mulai menyalahkan diri sendiri dan menganggap dirimu tidak cukup baik dan sebanding dengan orang lain. Pemikiran seperti ini jelas salah, dan harus segera dihentikan!

Cobalah untuk menghargai dan menghormati dirimu sendiri, sebab kamu lebih daripada layak untuk hal seperti itu. Kamu juga bisa dan mampu untuk mengupayakan hidup serta berbagai hal lainnya yang kamu inginkan, jadi mulailah berusaha untuk segera berbenah. Pahamilah satu hal yang penting, bahwa kamu adalah pribadi terbaik dan memiliki kepribadian yang baik dan bisa mengantarkan kamu kepada langkah-langkah keberhasilanmu nanti.

Mulai saat ini, syukurilah apa yang telah kamu miliki, baik itu nikmat sehat atau bahkan berbagai hal lainnya yang selama ini tidak pernah kamu anggap sebagai sebuah berkat. Dengan begitu kamu akan merasa bebas dan tidak hidup di bawah bayang-bayang milik orang lain, sebab kamu juga memiliki banyak hal berharga lainnya yang tak kalah penting untuk selalu disyukuri olehmu. Nikmati saja apa yang kamu miliki saat ini, sehingga kamu bisa menjalani hidup dengan lebih bahagia dari sebelumnya. Jangan mengecilkan dirimu dengan cara melihat orang lain, sebab hal seperti ini akan selalu membuatmu surut dan terbebani.

Kamu pantas dan layak untuk selalu bahagia setiap saat, sebab jika bukan kamu, maka siapa lagi yang akan mengupayakan kebahagiaan itu untukmu?

Seorang lelaki yang sangat tampan dan sempurna merasa bahwa Tuhan pasti menciptakan seorang perempuan yg sangat cantik dan sempurna pula untuk jodohnya. Karena itu ia pergi berkeliling untuk mencari jodohnya.

Kemudian sampailah ia disebuah desa. Ia bertemu dengan seorang petani yang memiliki 3 anak perempuan dan semuanya sangat cantik. Lelaki tersebut menemui bapak petani dan mengatakan bahwa ia ingin mengawini salah satu anaknya tapi bingung; mana yang paling sempurna.

Sang Petani menganjurkan untuk mengencani mereka satu persatu dan si Lelaki setuju. Hari pertama ia pergi berduaan dengan anak pertama. Ketika pulang, ia berkata kepada bapak Petani, “Anak pertama bapak memiliki satu cacat kecil, yaitu jempol kaki kirinya lebih kecil dari jempol kanan.”

Hari berikutnya ia pergi dengan anak yang kedua dan ketika pulang dia berkata, “Anak kedua bapak juga punya cacat yang sebenarnya sangat kecil yaitu agak juling.”

Akhirnya pergilah ia dengan anak yang ketiga. Begitu pulang ia dengan gembira mendatangi Petani dan berkata,”inilah yang saya cari-cari. Ia benar-benar sempurna.”

Lalu menikahlah si Lelaki dgn anak ketiga Petani tersebut. Sembilan bulan kemudian si Istri melahirkan. dengan penuh kebahagian, si Lelaki menyaksikan kelahiran anak pertamanya. Ketika si anak lahir, Ia begitu kaget dan kecewa karena anaknya sangatlah jelek. Ia menemui bapak Petani dan bertanya “Kenapa bisa terjadi seperti ini Pak? Anak bapak cantik dan saya tampan, kenapa anak saya bisa sejelek itu..?”

Petani menjawab, “Ia mempunyai satu cacat kecil yang tidak kelihatan. Waktu itu Ia sudah hamil duluan…..”

Kadangkala saat kita mencari kesempurnaan, yang kita dapat kemudian kekecewaan. Tetapi kala kita siap dengan kekurangan, maka segala sesuatunya akan terasa istimewa. Sebenarnya cerita ini berpesan, sebelum anda mencari kesempurnaan anda haruslah mensyukuri apapun itu pemberian dari sang Maha Kuasa.