Apa kalian pernah meminjam uang ke teman kalian? atau kalian pernah meminjamkan uang ke teman kalian? Baca artikel berjudul “dia meminjamkan bukan karena memiliki banyak uang” agar kalian bisa lebih berhati hati dalam meminjam uang.

Pernahkah kamu meminjam uang kepada teman atau sahabatmu, lalu sesekali mereka menolak dan kamu mulai kecewa atau bahkan kesal karenanya. Kamu mulai membuat banyak alasan bahwa seharusnya temanmu itu tidak menolak permintaanmu, sebab dia bisa, dia punya, hanya saja dia tidak mau, mungkin inilah yang akan terlintas di benakmu.

Kisah ini berawal dari persahabatan Udin dan Bima yang sama-sama bekerja sebagai karyawan di sebuah rumah makan Padang. Keduanya berteman sudah sejak lama, tak kurang dari 3 tahun lamanya. Baik Udin dan Bima, keduanya adalah perantau di ibukota dan tinggal di kost yang sama, meski berasal dari kota yang berbeda.

Suatu hari, Udin berniat untuk mengganti ponselnya yang lama, setelah sehari sebelumnya ia duduk-duduk di konter dekat rumah makan tempatnya bekerja. Udin naksir pada smartphone yang lebih canggih dari miliknya, meskipun ia sebenarnya tidak begitu membutuhkan barang tersebut, mengingat smartphone yang dimilikinya sekarang juga sudah memiliki fitur yang mumpuni. Kamera ponsel baru itu lebih jernih dan bening ketika membidik foto, dan Udin menginginkan itu. Saat istirahat siang ia kembali ke konter itu dan melihat kembali ponsel pintar itu di sana, Udin semakin tertarik.

Bayangan ponsel itu selalu menari-nari di benaknya, meski ia telah kembali bekerja setelah jam istirahatnya selesai. Udin mengambil ponselnya, lalu mengirimkan pesan kepada temannya Bima, mengutarakan niatnya untuk meminjam uang Rp 400 ribu sebab uangnya tidak cukup untuk membeli ponsel itu, meskipun ia sudah menjual ponsel lamanya nanti di sana. Hari itu Bima sedang libur, jadi Udin tidak bisa meminjam uang itu secara langsung padanya.

Udin gelisah dan berulangkali menatap layar ponselnya, sepi. Sepertinya Bima tidak mau meminjamkanku uang itu, rutuknya dalam hati. Namun ia tak putus asa, kembali ia mengirimkan pesan kepada Bima dan mengatakan bahwa ia sangat membutuhkan uang itu saat ini juga, sebab ada kebutuhan mendadak yang harus segera dipenuhinya. Lima menit kemudian ponselnya menyala, pesan baru tiba dari Bima. Pemuda itu mengatakan akan mengupayakan uang pinjaman tersebut, dan meminta Udin untuk sedikit bersabar.

Udin sedikit lega membacanya, lalu segera mengirimkan nomor rekeningnya kepada Bima. Setengah jam berlalu, Bima tak kunjung mengabarinya. Udin kembali mengirimkan pesan yang sama, satu dan bahkan hingga empat kali sampai akhirnya jam kerjanya habis. Udin marah dan merasa kecewa berat atas sikap temannya itu, dengan perasaan jengkel ia kembali ke konter tersebut dan berniat untuk sekedar melihat ponsel idamannya itu di sana.

Dari kisah di atas jelas terlihat bahwa tidak semua teman kita akan selalu memiliki uang yang cukup untuk dipinjami, sebab mereka juga memiliki kebutuhan lainnya, sama seperti kita atau bahkan lebih penting dari kebutuhan kita. Berpikirlah ketika akan meminjam uang kepada teman, sebab bisa saja permintaan kita ini akan menjadi sebuah beban bagi mereka. Terkadang, mereka juga meminjamkan uang bukan karena mereka memiliki banyak uang, namun karena mereka mengupayakannya dengan susah payah, agar kita tidak mengalami kesulitan.

Memang tidak ada salahnya jika kita meminjam uang ke teman kita, tapi cobalah untuk tidak meminjam uang kecuali dalam keadaan yang benar benar mendesak. Semoga cerita diatas dapat bermanfaat bagi anda dan dapat menginspirasi untuk anda sekalian.

Suatu kali di sebuah desa, ada seorang istri yang mengeluhkan perubahan sikap suaminya. Sang suami yang kembali dari perang membela kerajaan, kini berubah perangainya. Jika dulu penyabar dan sangat menyayangi istrinya, kini menjadi gampang marah, mudah tersinggung, dan bahkan sering mengeluarkan kata-kata kasar.

Awalnya, sang istri berusaha terus bersabar dengan kondisi tersebut. Ia yakin, suaminya suatu saat akan berubah kembali seperti semula. Namun, beberapa bulan berlalu, entah mengapa perangai suaminya tidak juga berubah.

Sang istri nyaris putus asa, bahkan sudah berniat menyudahi pernikahan mereka. Beruntung, saat mengadukan masalahnya pada seorang sahabat dekat, ia mendapat informasi adanya seorang pertapa di gunung yang sangat sakti.

Demi kecintaan yang mendalam kepada suaminya, sang istri pun menempuh perjalanan cukup jauh untuk bertemu dengan sang pertapa.

“Wahai pertapa yang baik, aku punya masalah dengan suamiku yang berubah sifatnya setelah pergi menunaikan tugas membela kerajaan. Apakah Anda bisa membuatkan ramuan sakti, atau adakah cara lain untuk mengembalikan sifat kasih suamiku seperti dulu?”

Tampak sang pertapa berpikir sejenak. “Memang, ada banyak orang yang berubah sifat setelah usai berperang. Sebenarnya itu wajar, mengingat perang meninggalkan banyak korban dan kepedihan. Jangan khawatir, ada sebuah cara untuk itu. Hanya perlu satu syarat lagi, agar harapanmu bisa terkabulkan.”

“Apa itu?” tanya sang istri tak sabar. “Aku pasti akan segera memenuhinya.”

“Aku hanya butuh tiga lembar kumis harimau di hutan!” sebut sang pertapa yang membuat sang istri kaget.

“Bagaimana aku bisa mengambil kumis dari binatang buas itu?”

“Semua terserah padamu. Kamu yang butuh ramuan ini, lakukan perintahku ini. Jika tidak, ramuan ini tak akan bisa bekerja seperti yang kamu minta,” seru pertapa tegas.

Meski berat syarat yang diminta—karena begitu besar cintanya dan tak ingin keluarganya berantakan—si istri menurut. Maka, setelah tahu ke mana biasanya harimau bersarang di tengah hutan, dikumpulkan keberaniannya untuk mengamati sang harimau.

Beberapa hari mengamati, si istri mendapat akal. Di sebuah pagi buta, sebelum harimau keluar dari sarangnya, ia menyiapkan nasi yang dilumuri kuah daging di depan sarang harimau. Pelan sekali ia melakukan itu. Tentu, dengan hati berdebar, ia tak ingin membuat harimau terbangun dan menerkamnya.

Lantas, dari jauh, ia pun mengamati, apakah harimau itu mau makan makanan pemberiannya.

Ternyata, meski semula didiamkan, lama-lama makanan tersebut mulai dijilati harimau dengan lahap. Si istri senang, taktiknya berhasil. Maka, hari-hari berikutnya—meski tetap dengan ketakutan yang masih bersisa—ia terus memberikan mangkuk nasi dengan aroma kuah daging.

Beberapa bulan berlalu. Saat itu, keberaniannya mulai bertambah. Sang harimau pun seperti sudah akrab dengan kebiasaannya menyediakan mangkuk nasi aroma daging.

Saat ia mendekati sarang harimau, derap kecil langkahnya mulai dikenali sang harimau. Sehingga, tak lama ia menaruh mangkuk, sang harimau segera datang memakan dengan lahap.

Begitu seterusnya, hingga akhirnya, si istri mulai berani lebih dekat lagi dengan harimau yang terlihat lebih jinak.

Tak terasa, delapan bulan lamanya. Akhirnya si istri dan harimau kini benar-benar menjadi sahabat akrab. Si istri sering mengelus kepala harimau, dan sebaliknya, harimau kerap bermanja-manja dengan si istri.

Saat itulah, si istri dengan kelembutannya memohon pada harimau untuk mau memberikan tiga helai kumisnya sebagai bagian dari ramuan untuk suaminya.

Tak lama kemudian, si istri datang kepada sang pertapa untuk memberikan tiga helai kumis harimau tersebut. Sang pertapa pun bertanya, apakah benar itu adalah kumis harimau hidup yang asli. “Ceritakan padaku bagaimana kamu bisa mendapatkan kumis itu?”

Si istri lantas berkisah, bagaimana selama delapan bulan terakhir, ia mencoba menaklukkan keganasan harimau. Dari awalnya sangat takut, pelan-pelan mencoba memberikan makanan, hingga akhirnya menjadikan harimau itu sebagai sahabat.

Sang pertapa lantas mengangguk-angguk senang. Namun tiba-tiba, tiga kumis harimau itu bukannya dibuat ramuan, tetapi malah dibuang ke perapian dan segera lenyap tak berbekas.

Si istri terkejut sekali dengan tindakan sang pertapa. “Pak pertapa, mengapa melakukan itu…? Itu adalah kumis harimau yang aku dapat dengan perjuangan sangat berat…!” ratap si istri.

Tenang, sang pertapa menjawab. “Kamu tak perlu ramuanku lagi. Kamu lihat, harimau yang ganas saja bisa takluk dengan kesabaranmu. Lalu, bagaimana jika hal yang sama kamu perlakukan pada manusia, yakni suamimu? Aku yakin, emosi yang sering muncul dari suamimu pelan tapi pasti bisa kamu taklukkan seperti kamu menjinakkan harimau itu. Pulanglah, kembali pada suamimu, dan perlakukan dia dengan kesabaran dan kasih sayang.”

Kisah tersebut adalah cerita tentang kegigihan seseorang dalam mencoba memecahkan masalah yang dihadapi. Butuh kesabaran ekstra, bahkan sangat lama, untuk mengatasi kondisi-kondisi yang kadang memang kurang mengenakkan.

Tapi, semua bisa dihadapi dengan kesabaran dan ketekunan. Masalah datang bukan untuk ditinggalkan, tapi diselesaikan. Halangan dan rintangan memang kerap mengunjungi hingga membuat kita terasa tersakiti, tapi sebenarnya itu adalah “ujian” untuk membuat kita menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.

Untuk meraih sesuatu memang butuh pengorbanan. Tak ada proses yang berjalan instan. Seperti kisah si istri penakluk harimau yang saya bagikan ini.Kesabaran tingkat tinggi yang ditunjukkan mampu menjadi solusi luar biasa—yang bahkan dianggap mustahil pada awalnya—untuk mengatasi persoalan apa saja.