Kisah Seorang Petani Miskin – Di sebuah desa yang jauh dari keramaian kota, hiduplah seorang petani miskin dengan seorang putranya. Petani itu mempunyai seekor kuda kurus yang tiap harinya selalu membantunya untuk menggarap ladang yang mereka miliki. Pada suatu ketika, secara misterius ia kehilangan kudanya dan petani itu pun bergegas pergi berlari menuju hutan untuk mencari kudanya yang hilang.

Baca juga: Kisah Seekor Belalang

Para tetangga yang mengetahui berita itu cuman bisa berkata, “Sungguh malang nasibmu, Pak Tani..” Pak tani hanya menjawab, “Malang atau beruntung? Aku tidak tahu …”

Beberapa hari kemudian, ternyata kuda petani kembali ke kandangnya. Namun ia tidak sendiri, karena ada seekor kuda liar yang mengikutinya. Para tetangga yang melihat peristiwa itu berkata, “Wah..sungguh beruntung nasibmu Pak Tani, bukan saja kudamu sudah kembali, tapi sekarang kau mempunyai 2 ekor kuda.” Pak tani hanya menjawab, “Malang atau beruntung? Aku tidak tahu …”

Keesokan harinya, putera pak Tani dengan penuh semangat berusaha menjinakkan kuda barunya. Namun, ternyata kuda tersebut terlalu kuat untuk dikendalikan, sehingga pemuda itu jatuh dan patah kakinya.

Para tetangga yang melihat peristiwa itu berkata, “Wahai Pak tani, sungguh malang nasibmu!” Pak tani hanya menjawab, “Malang atau beruntung? Aku tidak tahu …”

Putera pak Tani hanya bisa terbaring dengan kaki terbalut untuk menyembuhkan patah kakinya. Perlu waktu yang lama hingga tulangnya yang patah sembuh kembali. Tak lama kemudian, datanglah Panglima Perang kerajaan ke desa itu.

Dan memerintahkan seluruh pemuda untuk bergabung menjadi pasukan raja untuk bertempur melawan musuh kerajaan. Seluruh pemuda pun wajib bergabung, kecuali yang sakit dan cacat. Anak pak Tani pun tidak harus berperang karena ia masih belum bisa berjalan dengan baik.

Orang-orang di kampung berurai air mata melepas putera-puteranya bertempur, dan berkata, “Wahai Pak tani, sungguh beruntung nasibmu!” Pak tani hanya menjawab, “Malang atau beruntung? Aku tidak tahu …”

Nilai yang bisa di ambil dari cerita di atas

Dalam hidup kita saat ini, apapun yang sedang kita hadapi, kita harus selalu bersabar dan mensyukuri sesuatu hal yang terjadi. Mau hal itu berupa keberuntungan ataupun kerugian yang kita dapat. Namun perlu di INGAT, tuhan itu maha adil, jika kita merupakan orang yang baik, suatu saat akan ada masanya semua kerugian besar yang bakal melanda diri kita pastinya bisa terhindari.

Kisah Peta Harta Karun – Suatiu hari, seorang pemuda sedang asik berjalan di pantai yang sangat indah. Namun saat ia berjalan, pemuda itu tanpa sengaja menemukan sebuah botol yang terdampar di tepi pantai. Melihat hal itu, ia pun segera mengambil botol tersebut. Ternyata di dalam botol ada secarik kertas, dan ia pun mengeluarkan kertas itu dari dalam botol.

Baca juga: Kisah Perangkap Tikus

“hmm…terlihat seperti peta harta karun. Tapi mana ada sih di jaman sekarang begini.” kata si pemuda tidak percaya. Ia pun mengembalikan kertas tua itu ke dalam botol, menyumbatnya kembali dengan gabus dan membuangnya jauh kembali ke laut.

Beberapa saat kemudian, botol itu akhirnya ditemukan oleh pemuda lainnya. Pemuda itu juga melakukan hal yang sama, ia mengambil botol itu, membuka penyumbatnya, dan mengeluarkan peta harta karun itu. Pemuda ini cukup penasaran untuk membuktikan apa benar ini adalah peta menuju ke harta karun. Ia mencoba berjalan menuju ke tempat yang ditunjukkan dalam peta tersebut, yaitu sekitar 30 meter ke tengah laut.

Tetapi ketika tinggi air laut mencapai paha, ia pun memutuskan untuk berhenti. “Sepertinya ini jebakan, lebih baik aku tidak melanjutkan!” katanya. Pemuda itupun memutuskan untuk kembali ke pantai, dan membuang kembali botol yang berisi peta harta karun itu kembali ke laut.

Di kesempatan yang lain, ada pria dewasa yang menemukan botol tersebut terapung di air. Ia pun segera mengambil, membuka penyumbatnya, dan mengeluarkan peta harta karun itu. Setelah mempelajari isinya, pria itu pun mulai berimajinasi tentang banyaknya harta karun yang akan didapatkan ketika ia berhasil mengikuti petunjuk yang ada di dalam peta tersebut.

“Hmm…peta ini cukup menjanjikan, aku akan mencoba mencari lokasinya!” katanya kepada diri sendiri. Pria itu kemudian menyewa perahu dan menuju ke tempat yang ditunjukkan dalam peta tersebut.

Setelah sampai di tempat yang ditunjukkan peta, pria itu pun menceburkan dirinya dan mulai melihat ke bawah air. Beberapa kali ia harus ke permukaan untuk menarik nafas dan mengusap matanya, kemudian ia menyelam kembali mencari sesuatu seperti yang ditunjukkan oleh peta harta karun itu. Dan ketika ia merasakan tubuhnya sudah mulai letih, juga matanya yang perih, akhirnya pria itu pun memutuskan untuk menyerah.

“Sulit sepertinya untuk memastikan kebenaran dari peta ini” katanya. Akhirnya peta itupun dimasukkan kembali ke dalam botol, ditutup, dan dibuangnya kembali ke laut.

Beberapa hari kemudian, ada pria dewasa lain yang menemukan botol itu terapung dekat dengan pantai. Pria itupun segera mengambil, membuka penyumbatnya, dan mengeluarkan peta harta karun itu.

“Sepertinya hari ini adalah hari terbaikku! katanya semangat. Pria dewasa itupun mempelajari peta tersebut dengan seksama, lalu menyewa perahu dan menuju ke tempat yang ditunjukkan dalam peta tersebut.

Setelah sampai di tempat yang ditunjukkan peta, pria dewasa itu pun menceburkan dirinya dan mulai melihat ke bawah air. Ia menyelam mencari sesuatu seperti yang ditunjukkan oleh peta harta karun. Dan pada saat ia harus ke permukaan untuk menarik nafas dan mengusap matanya, ia pun berhenti sejenak, untuk memikirkan apa yang harus ia lakukan. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali naik ke perahu, dan kembali ke daratan, untuk menyewa perlengkapan selam.

Kemudian ia kembali menuju ke tempat harta karun itu berada, dan dengan perlengkapan selam lengkap, ia pun kembali menyelam. Pria dewasa itu mulai menyisir sekitar lokasi yang ditunjukkan oleh peta. Tak lama ketika ia menyelam semakin dalam, ia melihat sebuah kotak yang agak tertutup pasir. Pria itu pun segera menuju ke arah kotak, dan ditariknya kotak itu keluar menuju ke perahu. Matanya berbinar-binar ketika melihat kotak tersebut ternyata penuh berisi emas dan berlian.

Nilai yang bisa di ambil dari cerita di atas

Dari cerita yang ada di atas, kita bisa tau. Jika keberhasilan kita dalam mengatasi suatu masalah atau tantangan, tidak saja ditentukan oleh keterampilan (skill) yang kita miliki, namun juga membutuhkan keyakinan serta adanya usaha untuk melewatinya. Dan yang terpenting, kitapun harus mengetahui strategi yang tepat untuk mengatasi masalah atau tantangan tersebut.

Perluaslah wawasan, dan belajarlah terus menambah keterampilan yang ada, sehingga kita dapat mengatasi setiap masalah dengan strategi yang tepat.

Kisah Wortel, Telur dan Biji Kopi – Suatu hari, seorang anak dengan wajahnya yang tampak sedih dan lesuh menjumpai ayahnya dan ia pun memberitahukan keluhan yang di alami olehnya. “Ayah, aku tidak tahu harus berbuat apa lagi..aku sudah belajar hingga larut malam, juga sudah belajar bersama teman-teman. Tapi Bu Guru selalu memberikan soal ulangan yang sulit dan tidak dapat kami kerjakan. Apa yang harus aku lakukan, ayah?. Tanyak sang kepada anak kepada ayahnya.

Baca juga: Kisah Inspiratif, Penjual Kue Dan Pemilik Toko

Mendengar keluhan dari anaknya itu, ayahnya pun tersenyum dan membawa anaknya ke dapur. Ia lalu mengambil tiga buah panci, mengisinya masing-masing dengan air dan meletakkannya pada kompor yang menyala.

Beberapa saat kemudian air dalam panci-panci itu mendidih. Pada panci pertama, ia memasukkan wortel. Lalu, pada panci kedua ia memasukkan telur. Dan, pada panci ketiga ia memasukkan beberapa biji kopi tumbuk. Berikutnya mereka duduk diam mengamati api tungku yang mulai memanaskan panci-panci itu.

Sudah setengah jam berlalu, si anak mulai tidak sabar, apa selanjutnya yang hendak dilakukan ayahnya, lalu ayah mematikan semua kompor, menaruh wortel, telur dan biji-biji kopi di mangkok berbeda yang telah disiapkan sebelumnya. Lalu bertanyalah ia kepada anaknya itu, “Nak, apa yang kamu lihat?”. “Wortel, telur serta kopi!” jawab si anak.

Ia membimbing anaknya mendekat dan memintanya untuk memegang wortel. Anak itu melakukan apa yang diminta dan mengatakan bahwa wortel itu terasa lunak. Kemudian sang ayah meminta anaknya memecah telur. Setelah telur itu dipecah dan dikupas, sang anak mengatakan bahwa telur rebus itu kini terasa keras. Kemudian sang ayah meminta anak itu mencicipi air rebusan kopi.

Setelah melakukan apa yang dikatakan oleh ayahnya tersebut, bertanyalah anaknya itu kepada si ayah, “Apa arti semuanya ini, ayah?”

Sang ayah menjelaskan perbedaan ketiga benda tersebut dalam bereaksi terhadap situasi yang sama. Baik wortel, telur maupun biji kopi ditempatkan dalam kesulitan yang sama, yakni api yang sangat panas dan bahkan mendidih.

Namun reaksi ketiganya berbeda satu sama lain. Wortel masuk ke air dengan kondisi keras, namun setelah dipanaskan ia menjadi lembek dan lembut. Sebaliknya telur yang dimasukkan air dalam kondisi mudah pecah, setelah dipanaskan berubah menjadi begitu keras. Lain lagi ceritanya dengan biji kopi. Kondisinya tidak berubah namun hebatnya ia membuat air yang menyelimutinya menjadi hitam dan beraroma kopi.

“Seperti yang manakah dirimu saat menghadapi kesulitan hidup? Wortel, telur ataukah kopi?” tanya ayahnya sekali lagi dengan wajah tersenyum. Wortel diibaratkan seperti orang yang hatinya keras dan yakin, namun setelah mengalami berbagai kesulitan dan hambatan ia menjadi lembek dan mudah patah.

Ia berubah jadi khawatir, takut dan frustasi. Semua itu membuatnya menyerah kepada keadaan. Telur adalah orang yang mulanya kurang berani, khawatir, kurang yakin bahkan merasa tidak mampu. Namun kesulitan-kesulitan akhirnya mendidiknya menjadi semakin tegar dan kuat. Ia berubah menjadi percaya diri, lebih optimis dan berani.

Sementara itu biji kopi adalah lambang orang yang memiliki kemantapan diri. Dalam situasi sulit dan tertekan ia justru semakin menunjukkan kualitas dirinya. Ia bahkan memberi pengaruh yang besar dan bahkan menentukan kondisi di sekelilingnya. “Sekarang aku sudah mengerti Ayah, terima kasih..aku sayang Ayah” seru si anak ceria sambil memeluk ayahnya.

Nilai yang bisa di ambil dari cerita di atas.

Bagaimanan pun masalah terberat yang kita hadapai, pastinya hal tersebut harus kita lewati dengan rasa percaya diri dan berjuang semaksimal mungkin. Pastinya dengan begitu, segala masalah yang sedang kita hadapi bisa teratasi dengan baik.

Kisah Seekor Belalang – Alkisah ada seekor belalang yang terkurung di dalam sebuah kotak. Merasa tak betah di dalam kotak, ia pun berusaha untuk keluar dari dalam kotak yang selama ini telah mengurungnya. Setelah berhasil keluar, belalang itu pun akhirnya dapat bebas menikmati kebiasaan yang di milikinya.

Baca juga: Kesempatan Kedua

Belalang itu pergi melompat kesan kemari dengan gembira. Banyak hal yang dia bisa lihat, ternyata dunia di luar kotak jauh lebih indah. Bersyukurlah dia, karena ternyata keputusannya untuk keluar dari kotak tempat dia tinggal selama ini adalah keputusan yang terbaik.

Ketika sedang asik asiknya menikmati udara segar di sebuah taman, dia melihat seekor belalang lain sedang melompat ke arahnya. Ia pun merasa ada yang aneh dengan belalang tersebut, mengapa belalang itu bisa melompat jauh lebih tinggi dan lebih jauh darinya?

Dengan penuh penasaran, dia pun menghampiri belalang tersebut, dan bertanya, mengapa kau bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh, padahal bentuk tubuh kita tidak berbeda jauh?

Saya baru melihat kamu hari ini, darimanakah kamu berasal, di mana selama ini kamu tinggal? Semua belalang yang hidup di sini pasti bisa melompat setinggi dan sejauh yang saya lakukan.

Saat itu si belalang baru tersadar bahwa selama ini kotak tempat dia tinggallah yang membuat lompatannya tidak sejauh dan setinggi belalang lain yang hidup di alam bebas.

Nilai yang bisa di ambil dari cerita di atas

Pengalaman buruk atau hal buruk lainnya masa lalu yang pernah kita rasakan, hal itu seolah-olah menjadikan diri kita sendiri seperti seekor belalang yang hidup di dalam kotak. Dimana lingkungan sekitar bisa membatasi kemampuan yang kita miliki.

Kisah Perangkap Tikus – Suatu ketika seekor tikus mengintip dari balik celah pintu untuk melihat apa yang sedang di lakukan oleh petani dan istrinya. Tikus itu melihat pasangan suami istri itu membuka sebuah bungkusan. Tikus itu pun berpikir apakah itu makanan? Namun ia malah menjadi terkejut sekali, ternyata bungkusan itu berisi perangkap tikus.

Baca juga: Ketika Bob Sabino Di Kira Menjadi Tukang Sampah Di Gedung Kantornya

Ia pun segera berlari kembali ke ladang pertanian itu, tikus itu menjerit memberi peringatan;
“Awas, ada perangkap tikus di dalam rumah, hati-hati, ada perangkap tikus di dalam rumah!”
Sang ayam dengan tenang berkokok dan sambil tetap menggaruki tanah, mengangkat kepalanya dan berkata,

“Ya maafkan aku Pak Tikus. Aku tahu ini memang masalah besar bagi kamu, tapi buat aku secara pribadi tidak ada masalahnya. Jadi jangan buat aku sakit kepala-lah.”
Tikus berbalik dan pergi menuju sang kambing. Katanya, “Ada perangkap tikus di dalam rumah, sebuah perangkap tikus di rumah!”
“Wah, aku menyesal dengan kabar ini,” si kambing menghibur dengan penuh simpati, “Tetapi tak ada sesuatu pun yang bisa kulakukan kecuali berdoa. Yakinlah, kamu senantiasa ada dalam doa-doaku!”

Tikus kemudian berbelok menuju si lembu.
“Oh? Sebuah perangkap tikus?
Jadi saya dalam bahaya besar yah?”kata lembu itu sambil ketawa mengejek.

Jadi tikus itu kembalilah ke rumah, dengan kepala tertunduk dan merasa begitu patah hati, kesal dan sedih, terpaksa menghadapi perangkap tikus itu sendirian. Ia merasa sungguh-sungguh sendiri.

Malam tiba, dan terdengar suara bergema di seluruh rumah, seperti bunyi perangkap tikus yang berhasil menangkap mangsa. Isteri petani berlari pergi melihat apa yang terperangkap. Di dalam kegelapan itu dia tak bisa melihat bahwa yang terjebak itu adalah seekor ular berbisa. Ular itu sempat mematuk tangan isteri petani itu. Petani itu bergegas membawanya ke rumah sakit.

Si istri kembali ke rumah dengan tubuh menggigil, demam. Dan, sudah menjadi
kebiasaan, setiap orang sakit demam, obat pertama adalah memberikan sup ayam segar yang hangat. Petani itu pun mengasah pisaunya, dan pergi ke kandang, mencari ayam untuk bahan supnya.

Tapi, bisa itu sungguh jahat, si istri tak langsung sembuh. Banyak tetangga yang datang membesuk, dan tamu pun tumpah ruah ke rumahnya. Ia pun harus menyiapkan makanan, dan terpaksa, kambing di kandang dia jadikan gulai.

Tapi, itu tak cukup, bisa itu tak dapat ditaklukkan. Si istri mati, dan berpuluh orang datang untuk mengurus pemakaman, juga selamatan. Tak ada cara lain, lembu di kandang pun dijadikan panganan, untuk puluhan pelayat dan peserta selamatan.

Nilai yang bisa di ambil dari cerita di atas

Membaca dari cerita di atas, kita bisa belajar bahwa sifat mementingkan diri sendiri tidaklah membuat diri kita bisa terhindar masalah. Kita sebagai makhluk sosial, di mana kita tinggal dan banyak bekerja sama dengan orang lain baik di kantor maupun organisasi, sudah sepantasnya lah kita saling bantu membantu. Permasalahan satu orang dalam team, bukan tidak memunkinkan masalah itu akan menjadi akar dari masalah team tersebut secara keseluruhan.

  • 1
  • 2