Ubah Gaya Hidup Kisah Wanita Ini Dari Tukang Cukur Jadi Pilot Profesional

https://www.instagram.com/p/Blh7wDqF9EY/?taken-by=johsara

Seorang wanita asal Swedia bernama Sara Johansson menjadi terkenal bahkan viral karena aksi perubahan gaya hidupnya yang berbeda. Wanita yang memiliki pengikut hingga 22.000 followers ini menjadi sorotan publik dan kisahnya juga beredar luas.

Mantan penata rambut itu sekarang menjadi seorang Pilot Profesional bahkan menjadi seorang Selebgram dengan total pengikut yang cukup banyak.

Foto yang paling menuai sensasi adalah saat Sara Johansson berpose dalam seragamnya dan sedang berada di kokpit pesawat.

Banyak foto menarik yang diunggahnya. Ia tampil semakin mewah ketika mengisi hari liburnya dengan berlibur ke lokasi yang eksotis dan mengabadikan momen tersebut.

Menurut sumber, wanita berusia 33 tahun ini telah bekerja sebagai Pilot Komersial selama dua tahun setengah. Ia menerbangkan pesawat penumpang dan kargo pada Boeing 737. Sara kini menerbangkan Falcon 7X pada layanan korporat.

Dia berkata:

“Saya mendapatkan banyak pesan dari seluruh dunia melalui Instagram.”

“Ini cara yang sangat unik untuk berhubungan dengan orang.”

“Saya mendapat beberapa teman dekat baru berkat Instagram.”

“Kadang-kadang orang mendatangi saya sambil bertanya apakah saya Sara.”

“Itu selalu membuat wajah saya memerah dan tersenyum lebar.”

“Saya suka terbang.”

“Itu adalah perasaan yang bahkan tidak bisa saya jelaskan.”

“Saya suka belajar dan berkembang.”

“Dalam pekerjaan ini, Anda tidak pernah berhenti belajar.”

“Anda memiliki tanggung jawab besar sebagai pilot dan perlu memiliki pengetahuan luar biasa di banyak bidang.”

“Ini adalah perasaan terbaik di dunia”

“Saya menjadi orang paling bahagia saat terbang.”

“Saya telah melakukan banyak tantangan terbang di Afrika, ketika Anda harus terbang dan mendaratkan pesawat tanpa alat bantu navigasi. Terbang dalam jet 60 ton, tidak ada yang lebih baik dari itu.”

Ada yang unik mengenai kehidupan Sara Johansson sebelum menjadi Pilot. Dahulu kala rupanya sebelum menjadi seorang Pilot, sara sangat takut dengan ketinggian.

Dia bekerja sebagai tukang cukur dan penata rambut sebelum menemukan panggilan sejatinya dan menjelaskan tantangan yang dia hadapi hanya karena jenis kelaminnya.

Sara berharap Instagram dan ceritanya menunjukkan bahwa tidak pernah terlalu terlambat untuk mengejar impian, setelah pergantian kariernya yang terlambat.

        

Dia menambahkan:

Jangan pernah menyerah.”

“Kerja keras terbayar. Tidak ada jalan pintas untuk apa pun dalam hidup.”

“Tetapi jika Anda terus berjuang untuk itu, ada kemungkinan lebih besar untuk mewujudkan mimpi.”

Membanggakan, Kisah Sukses Anak Nelayan Meraih Beasiswa

Sukses itu tidak diukur dai apa yang dikerjakan. Meski mempunyai profesi sebagai Nelayan, mempunyai penampilan yang sederhana dan bau amin bukan berarti mereka tidak mempunyai cita-cita.

Sosok Elita Tirta Triningrum menjadi Inspirasi lingkungan sekitar yang sempat beranggapan negatif kepada keluarganya ditambah dengan kondisi keluarganya yang sangatlah berbeda.

Meskipun tahu tentang keuangan keluarganya, Elita tetap membantu sang ayah mencari ikan, tak ada yang menyangka jika ia merupakan sosok cerdas yang berprestasi. Kegiatannya melaut, semata-mata hanyalah niat tulus dirinya untuk membantu keadaan ekonomi keluarganya yang pas-pasan.

Dulu, saya sendiri sering ikut orang tua ke laut untuk cari ikan. Biasanya saya disuruh ngumpulin hasil tangkapan atau membuang air laut yang masuk ke perahu supaya enggak tenggelam waktu menjaring ikan,” kata Elita yang dilansir dari edukasi.kompas.com.

Dengan kondisi keuangan yang sangat pas, Elita justru tak mengendurkan semangat untuk mengejar mimpinya meraih prestasi.

Untuk itu, ia pun berusaha aktif mengikuti pendidikan formal di salah satu SMK Remaja di kawasan Pluit. Elita bahkan rela meluangkan waktunya untuk mengajar anak-anak nelayan lainnya di PAUD, Paket A, B, C, TPA, serta menar

Dengan kekompakan keluarga, Sang Ibu juga semangat membantu perekonomian keluarganya, ia bekerja sebagai penjahit. Meski hasilnya memang tak cukup, Ia juga beralih pada usaha makanan.

Ibu Elita berjualan otak-otak, dan hal ini membuat bangga keluarga karena Elita juga ikut turun membantu kedua orangtuanya berjualan otak-otak.

Saya sehari hari ngajar anak-anak, kalau libur itu bantu mamah sama bapak jualan otak-otak. Cuman kalau misalnya emak ada yang bantu ya saya ngelaut sama bapak,” ujar Elita

Inisiatif sendiri dengan berjualan otak-otak itu ya emang enggak seberapa hasilnya. Cuman ya bisa disisihin dari uang jual otak-otak itu diolah lagi biar cukup untuk seminggu kuliah. Kalau kuliah bawa bekel dari rumah,” ucap Elita.

Karena perannya yang aktif di sekitar lingkungan nelayan, membuat sosok Elita menyita perhatian banyak pihak. Ia pun kerap ditunjuk sebagai perwakilan untuk beberapa kegiatan. Seperti menjadi Duta Anak DKI, peserta Kongres Anak Indonesia di Banten, serta Forum Anak Nasional.

Berkat semangat dan prestasi yang ia dapatkan, dengan ketekunan dan usaha Elita Tirta Triningrum berhasil menerima penghargaan beasiswa penuh untuk menempuh pendidikan di Podomoro University.

Usaha dan kerja keras Elita terbayarkan. Apapun yang dilakukan juga sangat membanggakan keluarganya. Berbekal beasiswa yang diperolehnya, Elita siap merajut asanya meraih prestasi yang selama ini diidamkannya.

Usaha Sukses Muhammad Zohri Sebagai Juara Dunia Atlet Junior 2018

Nama Muhammad Zohri beredar luas ketika ia menjadi Juara Lari Dunia di Finlandia. Muhammad Zohro berhasil menjadi juara di cabang sprin putra 100 meter U 19 di ajang Kejuaraan Dunia Asia Atletik Junior 2018 kemenangannya tentunya membuat dirinya dan keluarganya bangga.

Niat dan tekat Zohri yang berasal dari keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi namun dapat ia buktikan kepada Indonesia dan menjadi sejarah bahwa kekurangan tidak menjadi dasar seseorang untuk malas akan tetapi bangkit dan meraih kesuksesannya.

Muhammad Zohri juga membuktikan bahwa Atlet Indonesia juga pantas dan layak untuk diperhitungkan di Dunia International.

Kehidupan Muhammad Zohri

Bernama lengkap Lalu Muhammad Zohri yang merupakan pria asal Lombok Nusa Tenggara Barat. Zohri lahir pada 01 Juli 2000 dan merupakan pasangan dari Lalu Ahmad dan Saeriah. Sejak kecil Zohri hidup dalam segala kekurangan dan penuh dengan kemiskinan, bahkan untuk berlatih saja Zohri tidak pernah menggunakan alas kaki dalam latihannya.

Meski memiliki keterbatasan dan kekurangan, kehidupan seakan menyudutkannya ketika Ibu yang melahirkannya harus meninggal di tahun 2015. Mengalami kesedihan bukan berarti ia harus patah semangat, melainkan ia ingin memberikan pembuktian sebagai seseorang yang punya motivasi.

Muhammad Zohri bangkit dari kesedihannya dan menunjukkan bahwa ia adalah atlit pelari yang tidka pernah pudar. Dan 2 tahun setelah kepergian ibunya, duka mendalam kembali dialaminya, ayahnya yang selalu mendampinginya harus pergi juga untuk selama-lamanya.

Kembali lagi dalam keterpurukan namun ia mempunyai semangat yang tinggi untuk menjadi atlit dan memberikan pembuktian kepada kedua orangtuanya yang telah meninggal.  Cita-citanya dapat ia buktikan ketika ia menjadi perwakilan Indonesia untuk mengikuti pertandingan kejuaraan Dunia atletik junior pada tahun 2018.

Berkat usaha kerasnya Muhammad Zohri mampu membuktikan menjadi Pemenang dan menjuarai cabang sprin 100 m dengan waktu tercepat yaitu 10,18 detik mengalahkan pelari asal amerika yang hanya selisih 0, 6 dan 0,7 detik yaitu  Anthony Schwartz dan Eric Harrison.

Pencapaian Zohri merupakan sebuah sejarah baru di Indonesia pada cabang olahraga atletik Indonesia. Pada sebelumnya pada ajang kejuaraan dunia prestasi Indonesia hanya mampu mencapai finis kedelapan di babak penyisihan di tahun 1986 di ajang lari 100 meter. Pada ajang Kejuaraan Asia Atletik Junior 2018 di Jepang, Lalu Muhammad Zohri juga berhasil meraih medali emas untuk lari 100 meter dengan catatan waktu 10,27 detik.

Kisah Lutfi Azizatunnisa Seorang Difabelitas Yang Menuntut Ilmu Hingga S3

Tekad dan semangat seseorang untuk menuntut ilmu tidak diukur pada keterbatasan seseorang. Segala keterbatasan pada diri seseorang tidak membuatnya putus ada dalam meraih prestasinya.

Itulah yang dialami oleh Lutfi Azizatunnisa yang merupakan seorang yang gemar mendaki gunung sekaligus menjadi seorang teladan yang berprestasi. Namun ada kisah inspirasi yang luar biasa dari seorang Lutfi.

Lutfi Azizatunnisa merupakan seorang yang sangat ceria dan sangt mencintai alam. Hobinya mendaki gunung dan kejeniusannya menjadikan dirinya sebagai salah satu Mahasiswa unggulan Universitas Negeri Solo Fakultas Kedokteran yang berprestasi

Namun peristiwa kecelakaan enam tahun lalu mengakibatkan ia tidak bisa melakukan hobinya sebagai pecinta alam atau pendaki gunung. Ia kehilangan kemampuannya dalam menggerakan tubuh.

Kecelakaan yang dialaminya di semester akhir perkuliahannya membuatnya lumpuh dan mengharuskannya bergantung pada kursi roda untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

Lutfi Azizatunnisa menderita Quadriplegic level C6 di mana tulang leher ruas ke-6 dan 7 patah. Hal itu akibat kecelakaan yang dialami pada 15 Agustus 2011.

Akibat kecelakaan yang dialaminya, Lutfi mengalami kelumpuhan di empat anggota gerak tubuhnya (quadriplegia). Sebelumnya Lutfi sempat diprediksi untuk kesempatan hidupnya hanya 50%. Namun tidak ada sesuatu yang tidak mungkin, takdir berkata lain, Lutfi mendapatkan kesempatan hidup.

Ia berhasil melewati masa kritisnya di UGD RS PKU Muhammadiyah Delanggu dan kondisinya perlahan semakin membaik setelah melakukan berbagai operasi di RSUP Suradji Tirtonegoro.

Lutfi Azizatunnisa sempat pasrah dan putus asa mengetahui kondisi yang di alaminya. Sementara itu dilain sisi, ia membutuhkan masa pemulihan selepas kecelakaan, ia mengambil cuti kuliah selama 3 tahun.

Bangkit dari keputusasaan itulah yang di alami Lutfi. Ia kemudian masuk kuliah lagi dan menyelesaikan pendidikan kedokterannya. Meski dengan kondisinya tidak banyak hal yang bisa dilakukannya akibat tidak cukup leluasa melakukan aktivitasnya.

Namun berkat dukungan orangtua dan teman-teman disekelilingnya membuat Lutfi mempunya semangat hingga dapat mengambil kuliah lagi setelah lulus S1, ia meneruskan  kuliah S2 di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat.

Ia bahkan mendapat beasiswa penuh dari WHO TDR (Tropical Disease Research). Didampingi sang ibu, wanita cantik ini akhirnya mampu menyelesaikan S2nya dengan mengagumkan. Ia lulus dengan predikat cumlaude.

Tidak hanya itu, Inspirasi sosok Difabel menjadikannya semangat menuntut ilmu. Dan sekarang ia bertekad menempuh pendidikan lanjutan S3 di luar negeri yakni di Belanda.

Kisah Mba Yati : Semangat Hidup di Usia Senja

Kisah yang sungguh mandiri dari seorang wanita paruh baya bernama Mbah Yati yang sudah berusia 89 tahun. Mba Yati mempunyai semangat hidup yang tinggi dengan berjuang sebagai seorang yang mandiri.

Untuk bertahan hidup Mbah Yati harus berada dalam sebuah ruangan sempit di tepi jalan besar hanya untuk mencari Nafkah dengan berjualan makanan.

Warung yang sekaligus menjadi tempat tinggalnya dibangun di atas tanah kas desa. Bangunanya tidak begitu luas. Area depan menjadi warung, lalu ada kamar di belakangnya.

Meski sudah hampir menginjak usia 90 tahun namun tangan keriput Mbah Yanti masih lincah dalam hal mengulek dan meracik berbagai menu makanan. Ada banyak pilihan menu yang dapat di sajikan oleh Mbah Yati, diantaranya seperti lotek, lotis, rujak buah, rujak cingur, rujak buah, kupat tahu, gado-gado, pecel.

Dahulu kala Mbah Yati menjadi satu-satunya warung yang ada di daerah tersebut namun semakin berubahnya waktu semkin banyak juga pesaing yang mendirikan warung makanan. Jika dulu penghasilan kotor bisa mencapai Rp 900 ribu, sekarang Mbah Yati hanya mendapat sepertiganya. Mbah Yati sudah 56 tahun berjualan lotek. Kini dia mengurusi warung seorang diri.

Jam 3 bangun, cuci-cuci piring. Terus sambil masak air. Nanti ke pasar jam 4. Pulang pasar racik-racik. Saya kalau ke pasar biasa nggak pakai sandal, karena memang nggak pernah punya sandal,” akunya.

Mbah Yati punya tiga orang anak perempuan yang semuanya sudah berkeluarga. Dua orang sudah ikut suaminya di luar Pulau Jawa. Sedangkan satu lagi masih di Yogyakarta, namun dia tak berkeinginan tinggal bersama anaknya. Dia berprinsip, daripada merepotkan anak lebih baik berusaha sendiri.

Saat ini warung yang dimiliki Mba Yati saat ini berada di Jalan Kaliurang KM 6,5 depan Batalyon 403 Yogyakarta. Buka setiap hari mulai pukul 8 pagi hingga pukul 9 malam.