Sempat di Penjara Kini Choirul Mahpuduah Sukses Buat Kampung Kue dan Jadi Wanita Inspiratif

Sempat di Penjara Kini Choirul Mahpuduah Sukses Buat Kampung Kue dan Jadi Wanita Inspiratif

Choirul Mahpuduah adalah mantan aktivis yang dulu pernah dipenjara karena vokal memperjuangkan hak-hak para buruh namun sekarang ia menjadi pengusaha sukses Kampung Kue.

Lokasi Kampung Kue

Kampung Kue berlokasi di Rungkut Lor II, Kecamatan Rungkut, Surabaya. Lokasinya tak jauh dari Trans Studio Mini Surabaya. Di sini, tersedia berbagai pilihan jajanan pasar. Mulai dari kue basah seperti lemper, pastel, donat rogut, dan bolu pisang, sampai varian kue kering. Salah satunya, almond crispy yang kini menjadi ikon kuliner Surabaya.

Eksis sejak 2005, Kampung Kue bermula dari keprihatinan Irul, begitu sapaan Choirul, pada para ibu-ibu Rungkut Lor II yang putus kerja. “Banyak dari mereka kena PHK. Mau lanjut kerja di pabrik sekitar pun ditolak karena usia mereka nggak produktif lagi,” ujar Irul di markas Facebook Indonesia di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Rabu (21/3/2018).

Awal Karir dan Usaha Kue

Saat itu Irul juga sedang tidak memiliki mata pencaharian dan sedang mencoba bisnis kue kecil-kecilan. Sebelumnya, ia bekerja buruh hingga akhirnya dipecat karena memperjuangkan hak-hak para buruh. “Aku malah pernah sampai dipenjara semalaman karena dituduh memprovokasi teman-teman,” kenang perempuan kelahiran Kediri, 28 Februari 1969, itu.

Mengingat perkataan Ibunya, selain jujur, ia selalu diingatkan sang ibu untuk menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain. Maka ia pun mengajak para ibu-ibu Rungkut Lor II, untuk berjualan kue produksi sendiri.

Mengawali perjalanan usaha tersebut, banyak tantangan yang menghadang, termasuk soal modal. Ia berusaha pinjam sana-sini, namun penolakan yang diterima. Sampai akhirnya, usaha tersebut tetap berjalan hanya berbekal modal Rp 150 ribu hasil urunan tiga orang.

Tantangan juga datang dari keluarga para ibu-ibu tersebut. Mereka dilarang bekerja oleh suaminya dengan alasan menelantarkan urusan rumah tangga.

Awal Sukses Kampung Kue

Merangkum dari berbagai cerita Bu Irul dan usahanya itu berkembang secara perlahan dan bertahap. Hal itu didasari dari promo para ibu-ibu sekitar yang mengadakan pertemuan antar warga. Serta perkembangan teknologi informasi yang menjadi wadah promosi Choirul Mahpuduah. Ia menggunakan Media Sosial dll dalam pengembangan usahanya.

“Ibu-ibu sekarang kan enggak gaptek. Jadi, mereka mempromosikan kuenya dan terima orderan lewat Facebook, Instagram, dan Whatsapp,” kata peraih penghargaan Pahlawan Ekonomi Surabaya 2014 ini.

Berkat media social seperti Instagram, lanjut Irul, Kampung Kue semakin dikenal. Tidak hanya di sekitaran Surabaya, tapi juga hingga ke mancanegara.

Saat ini, Kampung Kue memiliki 62 pedagang yang secara mandiri memproduksi dan menjual kue. Mereka berjualan di kala subuh. Puluhan ribu kue bisa diproduksi setiap harinya. Tidak hanya untuk dijual di Kampung Kue sendiri tapi juga didistribusikan ke pasar tradisional, pusat oleh-oleh, dan supermarket modern.

Irul berharap, Kampung Kue gagasannya dapat menginspirasi para perempuan untuk berani berkarya dan memberdayakan masyarakat sekitar sesuai dengan potensi yang dimiliki.

“Menurut saya kekuatan perempuan bisa terlihat saat diberikan kesempatan untuk berbisnis,” ujar Irul.