Kisah Inspirasi Sosok Perawat Palestina Yang Berjuang di Perbatasan Gaza
Cerita Rakyat Hidup Adalah Perjuangan

Kisah Inspirasi Sosok Perawat Palestina Yang Berjuang di Perbatasan Gaza

Kisah Inspirasi Sosok Perawat Palestina Yang Berjuang di Perbatasan Gaza

Razan Ashraf Najjar gugur dalam tugas. Peluru tajam yang ditembakkan tentara Israel menembus punggung gadis 21 tahun itu, merangsek ke jantungnya, saat ia sedang memberikan pertolongan pertama pada korban luka di tengah demonstrasi berdarah di perbatasan Gaza, Palestina.

Hingga akhir hidupnya, Jumat, 1 Juni 2018, Razan telah membuktikan bahwa ia adalah perawat yang tangguh. Perempuan itu tak gentar bertugas di garis depan. Wajahnya yang cantik dan kinerjanya yang cekatan membuatnya bak “malaikat” di tengah situasi penuh gejolak di perbatasan Gaza dan Israel.

Penembakan terhadap perawat muda itu masih diselidiki oleh pihak berwenang Israel. UN Special Coordinator for the Middle East Peace Process, Nickolay E. Mladenov mengatakan dengan nada tegas, “Perawat bukanlah target penembakan!”

Saksi yang merupakan rekan Razan melihat, perawat muda itu tidak menyadari dirinya saat ditembak, tapi ia merasakannya saat peluru keluar dari punggungnya. Ia menunjuk ke punggungnya, lalu jatuh dan terkapar. Untuk mengingat sosok Razan Ashraf Najjar, ada beberapa fakta soal dirinya yang perlu diketahui :

  • Bekerja 13 jam di Perbatasan Gaza Demi Obati Korban

    Ajaibnya perawat Razan ini bekerja selama berjam-jam atau kurang lebih 13 jam sebagai tenaga medis sukarela. Razan bertugas memberikan pertolongan pertama kepada orang yang terluka sampai mereka tiba dirumah sakit.  Ia membantu mengobati 70 orang yang terluka dalam satu hari, yang kebanyakan menderita luka akibat tembakan peluru karet. Bahkan ia bekerja hingga 13 jam sehari, dari pukul 7 pagi hingga 8 malam.Saat diwawancarai, Razan sempat mengungkapkan jika “Saya ingin membantu orang lain” karena apa yang dia lakukan untuk negara yang dia cintai dan itu merupakan tugas kemausiaan. Ia sempat menceritakan hari pertamanya bertugas sebagai paramedis. Yang paling sulit dihadapi, ia merasa lemas karena tembakan gas air mata sebanyak tiga kali. Seluruh tim medis menjadi sasaran tembak.

  • Berkerja sebagai Perawat Yang Mempunyai Tujuan Mulia

    Razan juga berkata “Kami punya satu tujuan, yakni menyelamatkan nyawa dan mengevakuasi orang. Dan untuk mengirim pesan ke dunia. Tanpa senjata, kami bisa melakukan apa saja.”
  • Duka Mendalam Bagi Semua Keluarga & Warga Palestina

    Rekan medis, keluarga, teman, dan puluhan ribu warga Gaza juga publik dunia ikut sedih. Kematian Razan yang ditembak tentara Israel menyulut kesedihan dan amarah publik. Ungkapan sedih membanjiri Twitter. Rekan dan relawan menangis karena kehilangan Razan.“Aku tidak percaya dia telah ditembak. Aku sangat bangga melihat bagaimana dia tumbuh menjadi seorang wanita yang kuat dan baik hati. Aku ingat, dia waktu kecil suka bermain. Setiap kali dia datang mengunjungi nenek, dia akan mengajakku pergi bermain,” curhat Dalia al-Najjar, sepupu Razan.